Rabu, 26 Oktober 2011

Selera

Hari itu saya sedang berada di salah satu dari sekian banyak tempat yang tidak saya sukai, Mall. saya hanya akan ke tempat ini apabila benar benar memerlukan sesuatu, seperti kemeja atau sepatu, atau mungkin barang elektronik. Bertempat di Bandung Indah Plaza, saya menjumpai pemandangan yang boleh dikatakan eksotik, serta mengundang komentar wah, wuih, dan suit suit! Mojang mojang yang mengenakan busana minim, memamerkan kulit mereka yang putih, gadget gadget menawan nan canggih, perpaduan kecerdasan dan keindahan, barang barang lux, mobil mobil dengan interior mewah dan mahal, jujur, saya terpikat dan menginginkan semuanya itu.


Namun pada saat yang sama saya teringat sebuah ayat Alkitab yang mengatakan ‘jangan mengasihi dunia ini dan segala yang ada di dalamnya’[1]. Ayat itu terasa mengejutkan, bagaimana mungkin kita bisa menolak dunia yang indah dan memilih Allah yang membosankan? Rasanya seperti memilih belajar bersama seorang guru matematika tua yang menjemukan dengan menolak ajakan kencan dari seorang gadis cantik, keputusan yang sungguh tidak masuk akal dan aneh.

Keterkejutan itu membawa saya kepada dua buah argumen, argumen yang pertama adalah bahwa Allah sedemikian siriknya, Ia seperti seorang kakek tua kolot yang tidak suka melihat anak muda bersenang senang, Ia lebih suka kita melakukan sesuatu yang mustahil, tidak enak, dan membosankan, namun lama saya berpikir dan akhirnya mengetahui bahwa  argumen ini sangat meragukan, bahkan keliru,  yang memaksa saya untuk mengambil argumen  kedua sebagai kesimpulannya.

Argumen itu adalah bahwa ada sesuatu yang salah di dalam diri saya, tetapi saya tidak tahu apa itu pastinya.



Dan baru beberapa hari yang lalu saya mendapatkan kejelasan, yang rusak dan sangat rusak dalam diri saya adalah SELERA, benar, dosa telah menyebabkan selera saya melenceng[2] dalam derajat deviasi yang cukup parah sehingga apa yang dunia pajang di etalasenya nampak begitu menggiurkan, lezat dan enak untuk dikecap.

Melalui pengalaman singkat di BIP, sekilas saya bisa memahami bahwa Allah sedang berbisik kepada saya bahwa saya memiliki selera yang keliru, Ia sedang dalam rencanaNYA melakukan terapi untuk mengembalikan selera jiwa saya seperti semula[3], dimana diriNYA menjadi jawaban atas dahaga dan kelaparan dalam relung jiwa saya yang kosong dan hampa. 

Allah ingin saya sadar bahwa untuk menemukan sukacita sejati, saya tidak memerlukan apa apa selain DIa, benar, hanya DIA. Sukacita yang melampaui segala akal.

Saya bukan ahli teologi ataupun seorang santo, tetapi saya ingin menyampaikan bahwa selama selera kita tertuju padaNYA, keindahan dunia ini hanya akan nampak seperti makanan basi, 


Anda tidak akan tergoda.


Saya tidak tahu bagaimana selera Anda, tapi percayalah, kita hatidan jiwa kita memerlukanNYA, Ia mengundang kita semua untuk menikmati satu satunya menu sejati di alam semesta ini,

Roti dan Air hidup



[1] 1 Yoh 2v15
[2] Dosa dalam bahasa aslinya ditulis dengan kata Hamartia, yang berarti melesat atau gagal         mengenai sasaran.
[3] Blaise Pascal mengatakan bahwa dalam jiwa manusia terdapat suatu rongga kosong yang tidak dapat diisi apapun selain Allah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar